suropati

Selasa, 24 Maret 2020

Budaya Is'am

Diposting oleh Suropati di 08.01 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Islamic Worldview

ISLAMIC WORLDVIEW SUATU TEOLOGY DALAM KEHIDUPAN DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU Dosen Pengampu: Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi Oleh : Drs. SURAJI NIM: 1511220081 PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG TAHUN AKADEMIK 2011/2012 ISLAMIC WORLDVIEW SUATU TEOLOGY DALAM KEHIDUPAN A. Pendahuluan Islam adalah agama yang lahir berbarengan dengan turunnya wahyu Alloh SWT kepada Nabi Muhammad saw, yang kemudian difahami dan disebarkan oleh akal dan intuisi manusia. Islam selanjutnya berkembang menjadi sebuah peradaban baru dengan struktur konseptualnya yang kokoh dan universal. Perkembangan Islam meluas dari jazirah Arab melintasi suku dan bangsa di dunia dengan tanpa mengalami perubahan pada prinsip-prinsip dasarnya. Ini merupakan suatu bukti bahwa Islam adalah agama untuk seluruh ummat manusia. Prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang telah diturunkan dengan sempurna yang menjadi titik tolak perkembangan peradaban Islam dikemudian hari. Artinya Islam yang diturunkan untuk membekali manusia dengan separangkat ritual peribadatan untuk beribadash kedaNya, dan pada saat yang sama juga mengajarkan pandangan-pandangan (View) fundamental tentang tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta, iman,ilmu, amal, akhlaq dan lain sebagainya. Dengan bekal seperti itu, Islam kemudian merupakan agama (Din) dan sekalugus peradaban (Madaniyyah) yang memiliki bangunan konsep (Conceptual Structure) yang disebut pandangan hidup (Worldview). Pandangan hidup (Worldview) memiliki peranan sebagai cara pandang terhadap segala sesuatu dan secara epistemologis dapat berfungsi sebagai framework dalam mengkaji segala sesuatu. Dalam kaitannya dengan poin yang terakhir makalah ini akan mengupas pandangan hidup Islam sebaqgai sebuah konsep dan framework kajian Islam. Hal ini penting dilakukan sebab Islam telah difahami dengan menggunakan pandangan hidup dan framework barat seperti yang telah dilakukan oleh orientalis. Kaian Edward Said terhadap orientalise menghasilkan tiga kesimpilan, bahwa kqajian dijelaskan orientalis tentang Islam lebih merupakan gambaran tentang pengalaman manusia barat ketimbang tentang manusia timur, bahwa orientalisme itu telah menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan Arab dan Islam. Bahwa meskipun kajian orientaqlis Nampak obyektif dan tanpa interes (Kepentingan), namun ia berfungsi untuk tujuan politik. B. Pengertian Worldview a. Menurut Bahasa Untuk memahami teori tentang pandangan hidup yang pertama-tama perlu adalah definisi atau pengertian pandangan hidup itu. Sebenarnya istilah umum dari worldview hanya terbatas pada pengertian ideologis sekuler, kepercayaan animistis, atau seperangkat doktrin-doktrin teologis yang ber-visi keduniaan. Juga terdapat agama dan peradaban yang memiliki spectrum pandangan yang lebih luas dari sekedar visi keduniaan maka makna pandangan hidup dalam konteks islam diperluas. Karena dalam kosa kata bahasa inggris tidak terdapat istilah yang tepat untuk mengekspresikan visi yang lebih luas dari sekedar realitas keduniaan selain dari kata-kata worldview, maka cendekiawan muslim mengambil kata-kata worldview (untuk ekspressi bahasa inggris) untuk makna pandangan hidup yang spektrumnya menjangkau realitas keduniaan dan keakheratan dengan menambah kata sifat islam. Namun dalam bahasa islam, para ulama mengekspresikan konsep ini dengan istilah yang khas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. b. Menurut Istilah Oleh karena pandangan hidup adalah suatu konsep yang dapat digunakan untuk menggambarkan cara pandang manusia secara umum tanpa melihat bangsa atau agama, maka beberapa definisi tentang worldview yang juga menggambarkan luas dan sempitnya spektrum yang dapat dikemukakan: 1) Menurut Ninian Smart, worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam fikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan perubahan sosial dan moral. 2) Thomas F. Wall mengemukakan bahwa worldview adalah sistim kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas dan tentang makna eksistensi (An integratet system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, andthe meaning of existence). Lebih luas dari definisi di atas. 3) Prof. Alparslan mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, terbasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup. (The foundation of all human conduct including scientific and tecnological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview). Ketika definisi diatas berlaku bagi peraqdaban atau agama secara umum. Namun definisi untuk Islam mempunyai nilai tambah karena sumbernya dan spektrumnya yang luas dan menyeluruh. Sebagai contoh akan disampaikan definisi worldview Islam oleh beberapa tokoh ulama' zaman moderen. c. Menurut Islam Dalam tradisi Islam klasik terma khusus untuk pengertian worldview belum diketahui, meski tidak berarti Islam tidak memiliki worldview. Para ulama' abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara yang satu dengan yang lain. 1. Maulana Al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariyat (Islamic Vision). Menurut Al-Mawdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat (Worldview) pandangan hidup yang dimulai dari konsep ke-Esaan Tuhan (Syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manausia di dunia. Sebab syahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia un tuk melaksanakannya dalam kehidupan secara menyeluruh. 2. Sayyid Qutb menggunakan istilah Al-Tasawwur Al-Islami (Islamic Vision) Sayyid Qutb mengarikan Al-Tasawwur Al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam fikiran dan hati setiap muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat di balik itu. Bagi Naquib Al-Attas, bahwa worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekatr wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total. Maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (Ru'yat Al-Islam Lil Wujud). 3. Muhammad Alif Al-Zayn menyebutnya Al-Mabda' Al-Islami Shaykh Muhammad Alif Al-Zayn mengartikan A-Mabda' Al-Islami sebagai aqidah fiqriyah (Kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab . Sebab setiap muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Alloh swt, kenabian Muhammad saw, dan kepada Al-Qur'an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang gaib ... itu berdasarkan cara pengindraan yaqng diteguhkan oleh akal, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi. Iman kepada islam sebagai Din yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhan, dengan dirinya dan lainnya. 4. Kesimpulan Islamic Wordlview Kesimpulan Islamic Wordlview adalah pemahaman seorang muslim terhadap konsep-konsep pokok dalam Islam. Pemahaman setiap manusia akan mempengaruhi prilakunya. Cara pandang, sikap, dan prilaku seorang manusia ditentukan bagaimana ia memaqhami suatu obyek yang diinderanya. Seorang muslim yang memiliki pandangan hidup Islam (Islam Wordlview) akan berbeda dengan seorang yang tidak memilikinya, ketika keduanya sama-sama melihat babi, kesetaraan gender. Kaum muslimin memiliki pandangan alam (Islamic Wordlview) yang berbeda dengan pandangan alam yang menjadi dasar peradaban barat. Mengeksplorasi pandangan alam Islam sangat penting untuk dilakukan sebagai alternative terhadap pandangan dunia barat yang telah menghasilkan peradaban barat yang sekuler dan liberal. Menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan Arab dan Islam. Bahwa meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa interes (Kepentingan), namun ia berfungsi untuk tujuan politik. C. Elemen-elemen Worldview Islam Sebagai sistem yang jelas, setiap worldview atau pandangan hidup memiliki karekteristik tersendiri yang ditentukan oleh beberapa elemen yang menjadi asas atau tiang penyokongnya. a. Secara Umum Elemen-elemen pandangan hidup Islam utamanya terdiri dari : a. Konsep Tuhan, b. Kosep wahyu, c. Konsep penciptaanNya d. Konsep psikologi manusia, e. Konsep ilmu, f. Konsep agama, g. Konsep kebebasan, h. Konsep nilai dan kebajikan i. Konsep kebahagiaan Elemen-elemen mendasar yang konseptual inilah yang menentukan bentuk perubahan (Change), perkembangan (Development) dan kemajuan (Progess) dalam Islam. Elemen-lemen dasar ini berperan sebagai tiang pemersatu yang meletakkan sistem makna, setandar tata-kehidupan dan nilai dalam suatu kesatuan sistem yang koheren dalam bentuk worldview. b. Menurut Pandangan cendekiawan Muslim Tidak banyak cendekiawan muslim yang menggambarkan elemen-elemen pandangan hidup islam secara terperinci. a. Sayyid Qutb, misalnya melihat bahwa pandangan hidup islam itu menyeluruh dan tidak mempunyai elemen atau bagian (Juz), tetapi adalah keseluruhan sisi dan sempurna kerana kesempurnaan sisi-sisinya. Pada sisi lain, b. Syekh Atif Al-Zayn, tidak merincikan elemen pandangan hidup islam, namun hanya mengajukan karakteristik yang membedakan antara pandangan hidup islam dari pandangan hidup lain. Karakteristik itu adalah: ia berasal dari wahyu Alloh swt, berasal dari konsep Din yang tidak terpisah dari negara, dan kesatuan antara spiritual dan material. c. Prof. Al-Attas memberikan pengertian beberapa elemen asas bagi worldview Islam yang menurutnya merupakan jalinan kosep-konsep yang tak terpisahkan. Diantara yang paling utama adalah: 1) Konsep tentang hakekat Tuhan, 2) Konsep tentang wahyu (Al-Qur'an), 3) Konsep tentang penciptaan, 4) Konsep tentang hakekat kejiwaan manusia, 5) Konsep tentang ilmu, 6) Konsep tentang agama, 7) Konsep tentang kebebasan, 8) Konsep tentang nilai dan kebajikan, 9) Konsep tentang kebahagiaan, 10) Dan sebagainya. Perbedaan pendapat Syekh Atif, Sayyid Qutb dan Al-Attas dalam elemen-elemen worldview Islam adalah perbedaan dalam penekanannya, tetapi ketiganya mempunyai kesamaan visi, yaitu bahwa pandangan hidup Islam berbeda dengan pandangan hidup barat. Syekh Atif dan Sayyid Qutb menunjukkan perbedaan tersebut pada asal atau sumber pandangan hidup, sedangkan Al-Attas melihat secara lebih konseptual dan praktis. c. Konsep Tuhan Dalam Islam Konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bqgi setiap agama. Kaqrena itu dalam pembahasan agama, yang pertama kali perlu difahami adalah konsep Tuhannya. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi tuhan dalam agama-agama lain, karena dalam islam konseptuhan dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Qur'an yang bersifat otentik dan final. Tuhan, dalam islam, dikenal dengan nama Alloh. Lafadl "Alloh" (الله) dibaca dengan bacaan yang tertentu. Ia diucapkan sesuai dengan yang dicontohkan Rosulullah saw., sebagaimana bacaan ayuat-ayat dalam Al-Qur'an. Dengan demikian nama Alloh, yakni "Alloh" bersifat autentik dan final karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw, kaum muslim di seluruh dunia, dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, juga menyebut dan mengucapkan nama Alloh k mengalami perbedaan yang mendasar dalaqm masalah konsep "Tuhan". Dalam agama Yahudi dan Kristen, nama tuhan masih merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Dalam agama Yahudi, nama tuhan tidak dapat diketahui denganm pasti. Mereka hanya menduga-duga bahwa nama tuhan mereka adalah Yahweh. "The Concise Oxford Dictionary of World Religions" menjelaskan tentang "Yahweh" The God Of Judaism as The Tetragammaton YHWH, may have been pronounced by orthodox and many other Jews, God's name is never articulated, least of all in the Jewish Liturgy". Dalam agama Kristen, Allah bukan nama diri, maka mereka dapat diperbolehkan menyebut nama Tuhan dengan berbagai panggilan. Pdt. A.H. Parhusip, dalam bukunya yang berjudul "Waspadalah terhadap sekte baru, sekte pengagung Yahweh", beliau menulis; "Lalu mungkin ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabannya: terserah pada anda! Mau pingil: Pencipta! Boleh. Mau panggil: Perkasa! Silahkan. Mau panggil: debata! Boleh. Mau panggil: Allah ! boleh. Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atauLowalangi atau Tetemanis...! silahkan ". Agama Kristen mempunyai istilah "Trinitas" (Trinity). Istilah ini bikan istilah Biblical, yakni yang tertulis dalam bible, tetapi mewakili kristalisasi dari ajaran Perjanjian Baru. Thomas Aquinas, tokoh pemikir Kristen abad ke 13, mengungkapkan tentang trinitas "That God is three and one is only known by belief, and it is in no way possible for this to be demonstratively proven by reason". Konsep Tuhan dalam Kristen mengalami beberapa perubahan sesuai dengan keputusan beberapa Consili dalam sejarah pemikiran Kristen. Bagi kaum pluralis, siapapun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena menurut mereka, agama merupakan bagian dari ekspresi budaya manusia yang bersifatnya relative. Nurcholis Majid misalnya, menyatakan dalam bukunya "Tiga agama satu Tuhan": "... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat rida itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama". Konsep tentang Tuhan seperti ini salah karena Alloh swt menciptakan kaum muslim untuk berdo'a "Ihdinash shirotol mustaqim" (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Dari do'a ini terbukti bahwa ada jalan yang lurus dan ada yang tidak lurus. Jadi dengan demikian tidak semua jalan adalah lurus atau benar. d. Konsep Manusia dalam Islam Beberapa pemikir muslim kontemporer telah menulis beberapa konsep mengenai manusia. Sebagai contoh:  Imam Fakhrudin Al-Rozi, beliau berpandangan bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki karakteristik khas, yakniu memiliki akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu. Karakteristik ini berbeda dengan karakteristik malaikat yang hanya memilki akal dan hikmah, tanpa tabiat dan nafsu. Dalam hal ini manusia juga berbeda dengan binatang yang hanya memiliki tabiat dan nafsu, tanpa memiliki akal dan hikmah. Menurut Fakhrudin Al-Rozi, manusia akan memiliki kelebihan dengan mahluk yang lain, bahkan lebih mulia daripada malaikat jika akal dan hikmah digunakan untuk mengatur tabiat dan nafsu. Sebaliknya, jika tabiat dan nafsu yang menguasainya, maka akan menjadi sama bahkan lebih hina dari binatang, yang memang tidak memiliki akal dan hikmah. Fakhruddin Al-Razi menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: Pertama, adalah Al-Nafs Al-Mutmainnah, yaitu jiwa yang tenang, yang penuh dengan kehidupan spiritualitas dan kedekatan dengan tuhan. Kedua adalah Al-Nafs Al-Lawwamah, yaitu jiwa yang penuh penyesalan. Ketiga adalah Al-Nafs Al-Ammaroh Bi Al-Su', yaitu jiwa yang selalu mengarahkan manusia kepada kejahatan.  Mengenai fitrah manusia Mengenai fitrah manusia terdapat tiga pandangan yang berbeda; a) Yang pertama, adalah pandangan Determistik, seperti yang dikemukakan oleh Ibn Al-Mubarak dan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani. Menurut pandangan ini, fitrah manusia telah ditentukan oleh kehendak Alloh SWT. Baik buruknya manusia, iman dan kafirnya merupakan realisasi dari kehendak Alloh SWT. b) Yang kedua, adalah pandangan Netral, seperti yang dikemukakan oleh Ibn Abd Al-Barr. Menurut beliau, manusia lahir dengan keadaan kosong, tanpa iman ataupun kafir. Kondisi iman taupun kafir terjadi setelah anak mencapai kondisi kedewasaan. c) Yang ketiga, adalah pendapat positif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Taymiyah, Ibn Qoyyim, Imam Nawawi, Al-Qurtubi dan lainnya. Yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan keadaan fitrah, tetapi lingkungan sosiallah yang menyebabkan individu menyimpang dari keadaan asalnya. Fitrah manusia adalah cinta dan mau beribadah kepada Alloh SWT dengan Ikhlash serta senagai orang yang hanif. Pendapat ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang menyatakan : "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanya yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani maupun Majusi”. e. Konsep Wahyu dalam Islam Dalam kamus bahasa Arab, kata wahyu mempunyai berbagai makna. Diantaranya adalah: Al-Isyarah Al-Sari'ah (isyarat yang cepat), Al-Kitabah (tulisan) Al-Maktub (tertulis), Al-Risaalah (pesan), Al-Ilham (ilham), Al-Ilm Al-Khafi (pemberitahuan yang bersifat tertutup dan tidak diketahui fahak lain dengan cepat). Dengan demikian dapat dikatakan secara konklusif bahwa dalam arti lughowiyah, "Wahy" adalah: "Pemberitahuan yang bersifat tertutup, tidak diketahui oleh fihak lain, cepat dan khusus kepada fihak yang dituju" . kemudian para ulama mendefinisan kata Wahy secara teknologis sebagai berikut: "Pemberitahuan Alloh SWT kepada seorang nabi tentang berita-berita ngaib, syari'at, dan hukum tertentu". Dari definisi ini jelas bahwa konsep wahy dalam Islam mengandung dua unsur utama, yaitu : Pemberi berita (Alloh SWT), dan penerima berita (Nabi), sehingga tidak mungkin terjadi wahyu tanpa keduanya. Jelas pula bahwa wahy bada dengan ilham yang memancar dari akal tingkat tinggi (Creative Imajination), daya imajinasi dan khayalan kreatif. f. Konsep Nabi dalam Islam Secara lughowi, nabi berasal dari kata Al-Naba' yang berarti "berita yang berarti dan penting". Maka nabi adalah "orang yang membawa berita penting". Secara Islam adalah "seorang yang diberi wahyu oleh Alloh SWT, baik diperintah untu menyampaikan (tabligh) tau tidak". Jika diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang lain, maka ia disebut "Rasul". Perbedaan antara Nabi dan Rasul beraneka ragam . tetapi perbedaan ini tidak tergolong masalah yang Qoth'iyyah dalam agama. Subtansi wahyu yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul adalah sama yaitu tauhid. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda: الانبياء اخوة لعلاة دينهم واحد وامها تهم شتى ”Nabi-nabi adalah saudara, agama mereka satu meskipun ibu-ibu mereka berlainan”. (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad). Ibn Taymiyyah menyebut subtansi wahyu yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul ini sebagai Al-Islam Al-Amm (Islam Universal), yang merupakan "agama fitrah". Oleh karena itu Islam telah meletakkan land san universal bagi humanisme yang sebenarnya, yang memungkinkan untuk mengakomodasi seluruh manusia, dengan berbagai latar belakang keagamaan dan keyakinan, sebagai saudara di bawah payung kemanusiaan. g. Konsep Ilmu dalam Islam Sejarah peradaban barat telah mengalami perceraian antara ilmu dan agama. Ini disebabkan karena agama Yahudi –Kristen tidak mendukung semangat kemajuan ilmiyah dikarenakan kekhawatiran bertentangan dengan doktrin-doktrin agama. Oleh karena itu, beberapa ilmuwan mendapatkan siksa dari pemerintah Kristen dikarenakan penemuan dan pemikiran ilmiyahnya. Sebaliknya dalam Islam, agama yang menghargai ilmu dengan posisi yang sangat istimewa. Keistimewaan tersebut tampak dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur'an dan hadit yang memerintahkan supaya mendalami ilmu. Diantaranya adalah Surat Az-Zum ar, ayat 9:              Artinya: Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Diantara hadits Rasulullah saw yang menunjuk kepada keutamaan ilmu adalah: من خزج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع Artinya "Barang siapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Alloh swt sampai dia kembali" (HR Tirmidzi). Dorongan semangat dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits seperti inilah yang memotifasikan pemikir-pemikir umat Islam untuk mendalami ilmu dalam berbagai bidang. Al-Khawarizmi, seorang cendekiawan muslim yang memberi kontribusi besar dalam ilmu matematika, dengan karyanya karena didorong oleh motivasi agama untuk menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jual beli. Ilmu dalam islam secara inheren terkait dengan amal ibadah, maka ilmu harus dipadu dengan amal, fikir danqan dzikir, akal dan hati. Maka salah satu konsep ilmu dalam Islam adalah jika ilmu bertambah tetapi hidayahnya tidak bertambah, dia hanya akan semakin jauh dari Alloh. h. Konsep Kebebasan dan Kebahagiaan dalam Islam Sebagian kaum ateis dan kaum non muslim mengira bahwa ketaatan dan ketundukan dalam Islam khususnya menyingkirkan kebebasan individu mereka mengira bahwa mentaati hukum-hukum agama Islam menghindari mereka dalam hidup yang bebas dan bahagia. Kalau melihat kepada kehidupan kaum muslimin maka terbukti bahwa kenyataannya tidak begitu. Islam justru memberi beberapa kebebasan dari keterikatan yang banyajk dialami manusia. Islam membebaskan akal dari khurofat dan mengisinya dengan kebenaran. Islam membebaskan jiwa dari dosa dan mendorongnya kepada kebaikan., islamk membebaskan manusia dari kehidupan dalam kesiasiaan dan kerakusan, ketakutan dan kegelisahan. Islam melepaskan keterikatan manusia kepada tuhan-tuhan palsu dan hawa nafsu, dan membuka baginya jalan kebaikan dan keutamaan. Seorang muslim yang taat kepada Alloh swt akan hidup dengan harmonis bersama dengan seluruh penciptaan, karena seluruh penciptaan hanya bertaat kepada hukum Alloh. Manusia diberi kemampuan untuk memilih jalannya, apakah mengikuti perintah Alloh seperti alam semesta atau tidak. QS: Al-Insan: 3:    •  • •  Artinya: ”Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. Manusia diberi Free Will, kebebasan dalam mengatur hidupnya. Namun dalam Islam, kebebasan ini diarahkan untuk melaksanakan kebaikan. Melaksanakan kebaikan ini merupakan amanah diri Alloh swt bagi kholifah Alloh di muka bumi. Jika manusia menggunakan Free Willnya untuk melaksanakan amanah dari Alloh swt, maka ia mencapai kebahagiaan ukhrowi. Sedangkan, mereka yang menolak amanahnya dan berpaling dari tuhan, mereka akan mengalami al-shaqowah, yaitu kesengsaraan, penderitaan, keputusasaan, ketakutan, kesedihan, penderitaan hati dan penyesalan. D. Urgensi Worldview dalam Kehidupan Islamic worldview (pandangan hidup/pandangan alam Islam) adalah pemahaman seorang muslim terhadap konsep-konsep pokok dalam Islam. Pemahaman setiap manusia akan mempengaruhi perilakunya. Cara pandang, sikap, dan prilaku seorang manusia ditentukan oleh bagaimana ia memahami suatu obyek yang diinderanya. Seorang muslim yang memiliki pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) akan berbeda dengan seorang yang tidak memilikinya, ketika kedua-duanya sama-sama melihat babi. Betapapun indah dan lezatnya masakan yang berasal dari babi, seorang muslim akan memahaminya sebagai barang haram yang harus dijahui. Seorang muslimah yang memiliki pandangan hidup Islam akan merasa ytenang dan bahagia ketika melakukan pekerjaan rumah tangga, karena ia merasa yakin apa yang dikerjakannya adalah ibadah. Berbeda halnya dengan seorang wanita yang berfaham "Kesetaraan Gender". Ketika menyiapkan minuman bagi suami dan anak-anaknya, dia akan merasa terhina. Dia akan bertanya, "kenapa bukan suaminya yang menyiapkan minuman bagi dirinya, padahal dia memiliki penghasilan yang lebih besar dibanding suaminya?". Berangkat dari paham ”kesetaraan gender”itulah, maka setiap wanita dapat memandang dirinya setara dengan laki-laki dalam segala hal. Tidak boleh ada diskriminasi dalam peran sosial dan budaya. Tidak boleh ada konsep bahwa ”laki-laki harus berada di shaf paling depan ketika shalat”. Tidak boleh ada konsep bahwa laki-laki adalah kepala rumah tangga. Tidak boleh ada konsep bahwa saat menikah wanita harus diwakili oleh walinya, sedangkan laki-laki dapat menikahkan dirinya sendiri. Tidak boleh ada konsep bahwa wanita tidak boleh menjadi khatib shalat jum'at. Tidak boleh ada pandangan bahwa hanya wanita yang memiliki masa 'iddah setelah perkawinannya berakhir sementara laki-laki bebas dari 'iddah. Itulah jika wanita terkena paham ”kesetaraan gender” yang berasal dari pandangan hidup Barat(Western worldview). Seorang muslim yang memiliki perspektif akhirat, dia tidak mungkin akan berlaku semena-mena terhadap istri dan keluarganya, karena dia yakin akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di akhirat. Meskipun diberi kekuasaan oleh Allah dalam rumah tangga sebagai pemimpin, dia tidak boleh berlaku semena-mena, karena semua amanah akan dipertanggung jawabkan. Bagi seorang muslim yang memiliki Islamic worldview, akan memandang hidup ini sebagai tempat untuk menjalankan amanah Allah. Semua akan dipertanggung jawabkan. Semakin besar amanah dan kenikmatan yang diterimanya, semakin besar pula tanggung jawabnya di akhirat. Seorang muslim yang memiliki Islamic worldview, akan yakin bahwa hanya Islam-lah agama yang diterima Allah:                Artinya : ”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. 3:83). Sebab, hanya Islam-lah agama yang mengajarkan kalimat tauhid (kalimatun sawa'), dan merupakan kelanjutan dari semua agama yang dibawa oleh para Nabi. Islam adalah nama satu agama dan penjelasan tentang cara beribadah yang benar kepada Allah. Dalam pandangan hidup Islam, manusia tidak mungkin akan mengenal Allah-Tuhan yang sebenarnya kecuali melalui keimanan kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad Saw. Hanya melalui utusannya itulah, Allah menjelaskan, siapa diri-Nya, dan bagaimana manusia harus beribadah kepada-Nya, dan bagaimana manusia harus menjalani hidup di dunia. Maka, untuk masuk Islam, seorang harus meyakini dan mengikrarkan pernyataan ” Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Karena itu, dalam perspektif Islamic worldview tidak dapat diterima pandangan kaum pluralis agama yang menyatakan bahwa semua agama pada dasarnya memiliki intisari yang sama, yatu sama-sama sebagai jalan yang syah untuk menuju Tuhan yang satu, meskipun masing-masing memiliki cara ibadah dan oenyebutan nama Tuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itulah tauhid tidak mungkin dapat dicapai melalui jalan pengalaman keagamaan (spiritualitas) semata, tanpa merujuk kepada wahyu yang diturunkan Alloh SWT. Inilah cara pandang Islam. Setiap orang yang mengaku muslim tentu saja harus memandang sesuatu dengan kacamata islam , bukan dari kacamata yang lain. Cara pandang kaum pluralis agama terhadap agama-agama yang ada tidak didasarkan pada ajaran suatu agama tertentu. Tetapi, dia harus berdiri pada posisi netral agama. Dia tidak berdiri pada posisi Islam, Kristen, Hindu, Budha, ataupun Konggucu. Dia berposisi netral, memandang semua agama benar dan sebagai jalan yang sama-sama syah menuju Tuhan yang sama. Karena tidak didasarkan pada wahyu, maka pandangan kaum pluralis ini lebih merupakan angan-angan, yang sering kali dicarikan justifikasinya dari ayat-ayat tertentu dalam kitab suci. Islamic Worldview bukanlah ajaran baru dalam Islam. Sebab, Islam adalah agama yang sudah sempurna sejak awal. Islam tidak berkembang dalam sejarah. Konsep tajdid (prmbaharuan) dalam islam bukanlah membuat hal yang baru dalam islam, melainkan upaya yntuk mengembalikan kemurnian Islam. Ibarat cat mobul, warna islam adalah abadi. Jika sudah mulai tertutup debu, maka tugas tajdid adalah mengkilapkan cat itu kembali, sehingga bersinar cerah seperti asal mulanya. Bukan mengganti dengan warna baru yang berbeda dengan warna sebelumnya. Islamic Worldview adalah upaya perumusan ajaran-ajaran pokok dalam Islam, yang formulasinya disesuaikan dengan tantangan zaman yang sedang dihadapi oleh kaum muslimin. Karena saaty ini yang sedang menghegemoni umat manusia adalah pemikiran Barat yang sekular-liberal, maka konsep Islamic Worlview inipun dirumuskan agar kaum muslim tidak terjebak atau terperosok ke dalam pemikiran-pemikiran yang dapat merusak keimanannya. Setiap muslim pasti akan diuji keimanannya. Iman tidak akan dibiarkan begitu saja, tanpa ada ujian;  ••     •      •            Artinya: ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS: 29: 2-3). Maka, setiap zaman dan setiap waktu akan selalu ada ujian iman. Ada yang lulus, ada yang gagal dalam ujian iman. Oleh karena itulah, setiap muslim diwajibkan agar selalu menuntut ilmu setiap saat agar dapat mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang tauhid dan mana yang syirik. Dalam kitab Sullamutt Taufiq karya Syeh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hisyam yang biasa dikaji di madrasah-madrasah diniyah dan pndok-pondok pesantren disebutkan bahwa merupakan kewajiban setiap muslim untuk menjaga islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini bahwa riddah ada tiga jenis, yaitu murtad dengan keyakinan (i’tiqad), murtad dengan lisan dan murtad dengan perbuatan. Contoh dari segi i’tiqad, misalnya ragu-ragu terhadap wujud Alloh, tau ragu terhadap kenabian Muhammad SAW., atau ragu terhadap Al-Qur’an, atau ragu terhadap hari Akhir, surga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya. Ulama India Syech Abul Hasan Ali An-Nadwi pernah menyebutkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi ummat Islam saat ini sepeninggal Rasulullah SAW. Adalah tantangan yang diakibatkan oleh serangan-serangan pemikiran yang datang dari peradaban barat. Sebab, tantangan ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan islam, yaitu masalah iman dan kemurtadan. Menurut An-Nadwi, seranan modernisme peradaban Barat ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan.Dia mengungkapkan: "...Di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman kemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang di atasnya dari ujung ke ujung....Inilah kemurtadan yang telah melanda Muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah Saw." (Lihat, Abul Hasan Ali An-Nadwi, "Ancaman Baru dan Pemecahannya" dalam Benturan Barat dan Islam, [1993: 13-19]). Dalam pandangan Islam, soal murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat Al-Qur'an yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.         •                "Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun, dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangan cepat perhitungan-Nya." (QS An-Nur [24]: 39). Diera globalisasi ini seharusnya kaum muslimin sadar, bahwa setiapsaat keimanan mereka sedang dalam kondisi diperangi habis-habisan oleh nilai-nilai sekular-liberal yang dapat mengkikis dan menghancurkan pemikiran Islam dan keimanan mereka. Globalisasi bukan hanya melahirkan penjajahan ekonomi, tetapi juga penjajahan pemikiran dan budaya. S.M. Idris dalam bukunya , Globalization and the Islamic Challenge (Kedah: Teras, 2001), mencatat bahwa globalisasi merupakan ancaman yang sangat serius terhadap kaum muslimin. (Globalization poses a serious threat to Muslims. It not only brings about economic exploitation and impoverishment, but also seriouserosion of Islamic beliefs, values, culture, and tradition). Jadi, menurut S.M. Idris, globalisasi bukan hanya mempraktekkan eksploitasi ekonomi dan kemiskinan, tetapi juga mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya dan tradisi Islam. Kapitalisme global mempromosikan nilai-nilai individualisme, marerialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Pemikiran ini telah merasuki jantung-jantung kehidupan kaum muslim (baik rumah tangga sampai institusi pendidikan), maka ditengah zaman seperti ini, mau-tidak mau setiap muslim wajib membentengi dirinya dengan keilmuan Islam yang benar dan memahami pemikiran bathil yang dapat merusak keimanannya. Untuk itulah, setiap muslim wajib memiliki pandangan hidup islam. Dengan demikian insya Alloh dia akan mampu menghadapi tantangan pemikiran modern yang dapat merusak keimanannya, dan sekaligus dia dapat hidup dalam keimanan, dalam keyakinan tentang islam, dan pada giliran berikutnya dia dapat menikmati hidup yang penuh dengan kebahagiaan, karena dia hidup dalam keyakinan. E. Islamic Worldview dalam Pendidikan Membicarakan pandangan hidup tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu pranata sosial yang paling kuat dalam hal pewarisan nilai di samping keluarga dan masyarakat. Nuilai adalah produk pandangan hidup sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, dalam sejarah Islam pendidikan merupakan salah satu hal yang mendapat perhatian sangat serius hingga kemudian moderl-model lembaga pendidikan yang dikembangkan dalam Islam menjadi rujuan utama pengembangan kelembagaan pendidikan di Barat setelah zaman Renaissans. Di Indonesia pendidikan Islam neniliki sejarah yang begitu berwarna. Sejarah negeri ini mencatat lembaga pendidikan lama yang sampai hari ini sampai bertahan dan merupakan lembaga pendididkan asli Indonesia yaitu ”Prsantren”. Pesantren ini adalah lembaga pendidikan yang dikreasi sedemikian rupa oleh para ulama agar mencerminkan misi dan pandangan hidup Islam yang jelas. Tidak mengherankan bila didalam tubuh pesantren siapa saja dapat menyaksikan Islamic Worldview secara terang. Cara pandang Isalam yang benar di tubuh pesantren terlihat sejak dari pendirian pesantren itu sendiri, keuangan, kelembagaan, sampai muatan pendidikan. Berikut penjelasan masing-masing; Pertama pendirian pesantren pada umumnya pesantren-pesantren di Indonesia didirikan sebagai perluasan dari masjid-masjid yang digunakan sebagai pusat dakwah dan pengajaran Islam. Di masjid yang nantinya menjadi cikal bakal pesantren biasanya tinggal seorang ulama yang dirinya tertanam misi yang kuat menyebarkan ajaran dan petunjuk Alloh SWT. Kepada masyarakat. Untuk itu, para ulama mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat sekitar. Mula-mula muridnya hanya beberapa orang lama-kelamaan setelah banyak masyarakat yang tertarik, murid-murid mulai berdatangan dari berbagai tempat sehiongga terpaksa masjid harus diperluas dan dilengkapi dengan pondok-pondok untuk menginap santri yang datang dari jauh. Kedua, motif dakwah yang ingin menyebarkan agama Alloh SWT., tercermin semakin kuat bila melihat bagaimana keuangan dikelola. Sejak awal pesantren tidak didirikan sebagai lembaga usaha komersil, sehiongga pada umumnya tidak ada pesantren yang membebankan kewajiban membayar kepada santrinya, alias geratis. Semua keperluan santri ditanggung oleh pesantren. Pesantren sendiri mendapatkan dana dari wakaf umat islam. Umat Islam secara sukarela mewakafkan sebagian kekayaan mereka karena mereka sangat sadar bahwa pesantren bukanlah lembaga komersil, melainkan lembaga yang tengah mengemban misi mulia menyebarkan agama Alloh swt., dan ajaran nabi Muhammad saw. Dengan cara seperti ini, selain pesantren dapat tetap hidup tanpa harus bergantung kepadasiapapun, aspek pemerataan pendidikanpun dapat tercapai secara optimal. Semua santri dari kelas manaapun datangnya, kaya atau miskin, dapat sama-sama menikmati pendidikan sampai jenjang yang diinginkannya. Dengan demikian, menuntut ilmu sebagai kewajiban setiap muslim dapat terwujud tanpa terhalangi oleh kemiskinan. Ketiga, kelembagaan pesantren pada umumnya terpusat pada kiyai. Kiyai sebagai simbul keilmuan, bukan sebagai simbul birokrasi. Seorang kiyai mendapat pengakuan masyarakat karena kedalaman ilmunya dan keteladanannya bagi masyarakat. Kiyai adalah sososk ulama warotsatul Anbiya’yang keberadaannya sangat dibutuhkan dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Oleh sebab itui tidak mengherankan bila sering kali kiyai tidak hanya sebagai pemimpin di pesantren, tetapi juga sebagai pemimpin di masyarakat, dalam sekala yang paling kecil hingga yang paling luas. Dalam kontek pendidikan, simbul kiyai di pesantren memperlihatkan cara pandang yang benar daslam relasi pendidikan. Pendidikan yang benar akan menempatkan guru sebagai pusat pendidikan, bukan bangunan dan serangkaian administrasi yang rigid. Kiyai mencerminkan sosok guru sejati: luas ilmu dan patut diteladani. Kiyai juga yang menentukan warna proses pendidikan di pesantren. Kiyai juga menentukan kurikulum pendidikan, termasuk juga menentukan penerimaan dan kelulusan murid. Keempat, kurikulum yang dirancang di pesantren merepresentrasikan dengan baik konsep ilmu dalam Islam. Di seluruh pesantren, kurikulum dirancang berdasarkan konsep hirarki ilmu yang mendahulukan ilmu fardhu 'ain sebelum fardhu kifayah. Setelah itu baru diajarkan ilmu-ilmu yang mustahab. Selain itu, adab menuntut (adabul ilmi) menjadi soko-guru kurikulum yang dirancang. Adab-adab dalam islam dalam menuntut ilmu, baik adab guru maupun murid, dipegang secara konsisten di pesantren. Pelanggaran pendidikan terjadi ketika adab-adab ini dilanggar. Salah satu adab, misalnya, murid harus membersihkan jiwa (tazkiyatun-nafs) sebelum proses belajar dilakukan, dan guru pun harus mengawali pekerjaannya dengan niat semata mengharap ridha Allah Swt. Prinsip ini tidak pernah dikenal dalam sistem pendidikan sekuler. Namun, dalm sistem pendidikan islam seperti yang dipraktekkan di pesantren prinsip ini menjadi prinsip sentral. Siapapum yang melanggar dianggap telah melakukan pelanggaran serius dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, sepanjang sejarahnya, pesantren tidak hanya dikenal sebagai pusat keilmuan, tetapi juga benteng moral dan spiritual. Sebab, didalam islam tidak pernah ada pemisahan antara ilmu, moralitas, dan spiritualitas. Ketiganya berada dalam kontinum yang beriringan untuk melahirkan manusia sempurna (insan kamil). Kelima, seiring dengan misi dan konsep pendidikan Islam, pesantren secara esensial telah mempraktikan tujuan pendidikan yang benar, yaitu untuk menyiapkan manusia-manusia yang benar. Pesantren tidak pernah mencanangkan pendidikannya untuk menyiapkan tukang-tukang untuk menjadi skrup pembangunan negara. Pesantren hanya berkonsentrasi untuk menyiapkan "manusia-manusia baik". Manusia yang baik ini pada gilirannya dapat menjadi bagian dari warga negara baik yang akan memberikan kontribusi penting bagi pembangunan. Walaupun tidak pemah menyiapkan alumni-alumninya untuk menjadi pekerja-pekerja, namun sangat jarang pesantren meluluskan pengangguran-pengangguran. Pada umumnya, alumni-alumni pesantren memiliki jiwa mandiri dan semangat enterpreuneurship yang tinggi sehingga saat lulus dari pesantren tidak pemah terpikir untuk hidup menganggur. Sekadar untuk hidup, mereka tidak akan menjadi beban orang lain. Semangat ini merupakan buah dari adab Islam yang diajarkan dan ditanamkan di pesantren. Amat disayangkan ketika gelombang sekularisme menyerang sendi-sendi kehidupan umat Islam di Indonesia, prinsip-prinsip yang benar yang dipraktikkan oleh pesantren tidak pemah menjadi referensi serius dalam pengembangan dan perancangan pendidikan di negeri ini. Pendidikan pesantren dianggap sebagai pendidikan kolot yang sudah harus ditinggalkan. Kesan pesantren yang kumuh, ndeso, terbelakang, uninformed, anti-kemajuan, dan semisalnya sering dikampanyekan agar umat Islam di negeri ini tidak pemah mau lag! dekat dengan pesantren. Yang paling menyedihkan, penguasa negeri in' bahkan tidak pemah mengakui pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sah dan memiliki civil effect seperti halnya sekolah-sekolah sekuler yang disponsori pemerintah. Pemerintah malah sangat bemafsu untuk mengubah pesantren agar mengikuti pola pendidikan yang dirancang pemerintah sekalipun sama sekali tidak mencerminkan konsep pendidikan yang benar menurut Islam. Kesan yang sengaja diciptakan itu mengakibatkan persepsi masyarakat terhadap pesantren menjadi begitu negatif. Kepercayaan diri pesantren yang tidak mengerti dasar-dasar pemikiran yang kuat dan hanya menjalankan ritual sebuah pesantren semakin lama semakin terkikis. Banyak pesantren yang terpaksa harus 'takluk' pada keinginan pasar dengan mengikuti keinginan pemerintah. Tidak sedikit pesantren yang akhimya gulung tikar dan lebih memilih mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dengan model sekuler. Adab-adab ilmu yang selama ini dipraktikkan di pesantren serta-merta ikut terkikis dengan ditutupnya sistem pendidikan pesantren lama. Memang model pendidikan dapat saja dimodifikasi mengikuti kebutuhan dan tuntutan zaman, baik dari sisi kelembagaan maupun administrasi. Namun, esensi dan adab ilmu yang merupakan landasan penyelenggaraan pendidikan dalam Islam tetap hams menjadi acuan utama. Inilah yang menjadi cermin berlakunya pandangan hidup Islam (Islamic worldview) dalam pendidikan. Seiring dengan semakin mengguritanya pemikiran, konsep, dan praktik pendidikan sekular, pandangan hidup Islam dalam dunia pendidikan pun semakin tidak popular, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Penyebab utamanya adalah ketidakmengertian para praktisi dan pemikir pendidikan terhadap prinsip-prinsip pendidikan Islam yang benar. Oleh sebab itu, sudah seharusnya calon-calon praktisi an pemikir pendidikan dipahamkan mengenai pemikiran Islam yang benar. Idealnya, seorang praktisi pendidikan Muslim hams menguasai secara komprehensif dasar-dasar ajaran Islam yang merupakan ilmu fardhu 'am sehingga pemahamannya tentang Islam komprehensif dan mendasar. Untuk itu, mereka hams memiliki basis studi Islam yang kuat. Apalagi, saat ini, tantangan dunia pemikiran Islam sangat dinamis. Sebab, untuk memuluskan misinya di bidang pendidikan, negara-negara Barat saat ini tidak segan-segan melakukan berbagai usaha besar-besaran dalam mempercepat liberalisasi dalam studi dan pemikiran Islam di Indonesia, terutama di bidang pendidikan. Mengingat kebutuhan mendesak dan keterbatasan waktu, wawasan tentang studi dan pemikiran Islam diberikan secara mendasar dan komprehensif dalam mata kuliah Filsafat Ilmu ini, sehingga diharapkan, kedepan, sarjana-sarjana pendidikan dapat mengembangkan keilmuan Islamnya lebih jauh. Wawasan ini bukan hanya bermantaat untuk membentengi dirinya dari pemikiran-pemikiran destruktif yang dapat merusak akidahnya, tapi juga bermanfaat untuk membuka wawasannya lebih jauh tentang keilmuan Islam. Jika suatu ketika dia berminat melanjutkan studi Islam ke jenjang yang lebih tinggi, dia sudah mendapatkan wawasan mendasar dalam hal ini. Ibaratnya, dia sudah berada di rel yang benar, meskipun baru dalam taraf awal pemberangkatan. F. Kesimpulan Secara umum, materi makalah ini diharapkan mampu untuk memberikan wawasan yang mendasar tentang Islam. Sehingga pada giliran berikutmya para pemerhati makalah ini akan memiliki kerangka (framework) pemikiran Islam yang kokoh, sehingga mampu menilai dan menyaring berbagai bentuk pemikiran yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga, setelah penulis menerima materi kuliah Filsafat Ilmu ini, tidak lagi terombang-ambing dalam pemikiran keagamaan, melainkan makin bersemangat dalam mendalami keilmuwan Islam lebih yang jauh lagi, dan lebih penting lagi semakin terdorong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan dasar pemikiran ini, diharapkan, sarjana pendidikan Islam bukan hanya menjadi 'zombi' dalam dunia pendidikan yang tunduk dalam kepentingan pasar. Hanya menjalankan aktivitasnya semata karena uang, tanpa ruh dan semangat beribadah pada Allah Swt. Diharapkan dia sadar sesadar-sadamya bahwa yang dilakukannya adaiah bagian dari tugas menjalankan perintah Allah Swt. dan menegakkan kalimah-Nya. di muka bumi ini. Dengan mengikuti materi-materi dalam perkuliahan Filsafat Ilmu ini, diharapkan kita menjadi Muslim yang kaffah, yang memiliki pemahaman Islam yang mendasar, kokoh, mencintai keilmuan Islam yang memadai, dan tentu saja professional di bidang pendidikan dan di berbagai bidang profesi lain sesual dengan bakat dan kemampuan yang diberikan Allah Swt. kepadanya. DAFTAR PUSTAKA 1. Shed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990) 2. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Meaning and Experiences of Happines in Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993) 3. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Expostition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995) 4. Didiek Ahmad Supadie, dkk, Pengantar Studi Islam. (Jakarta: Rajawali Pers, 2011) 5. Karen Amstrong, Sejarah Tuhan (Terj), (Bandung: Mizan, 1999) 6. Nurcholish Madhid, Tiga Agama Satu Tuhan (Bandung: Mizan, 1999) 7. Ibn Taymiyyah, Al-Jawab al-Shahih li-man Baddala Din al Masih (Riyadh: Dar al-'Ashimah, 1414H) 8. Fakhruddin al-Razi, Kitab al-Nafs wa al-Ruh wa Syarh Quwahuma (Islamabad: 1968) 9. Hamid Fahmy Zarkasi, dkk, Membangun Pondasi Peradaban Islam, (Semarang: Unissula Pers, 2010)

Pengikut

Arsip Blog

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Budaya Is'am
  • ►  2014 (1)
    • ►  Mei (1)

Mengenai Saya

Suropati
Lihat profil lengkapku
Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.